The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 3,900 times in 2010. That’s about 9 full 747s.

In 2010, there were 5 new posts, growing the total archive of this blog to 15 posts.

The busiest day of the year was December 10th with 84 views. The most popular post that day was Penguncian dan Rencana Pembakaran Panti Asuhan Hasanah Kautsar Tasikmalaya.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were dunia.vivanews.com, facebook.com, voa-islam.com, search.conduit.com, and twitter.com.

Some visitors came searching, mostly for ulil abshar abdalla, ulil abshar abdalla harvard, ulil abshar, ulil abshar abdalla blog, and ulil.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Penguncian dan Rencana Pembakaran Panti Asuhan Hasanah Kautsar Tasikmalaya December 2010

2

Catatan tentang Film ‘2012’ November 2009
50 comments and 1 Like on WordPress.com,

3

Filsafat Cahaya September 2009
2 comments

4

Ulil: Fatwa MUI Menekan Gerakan Pluralisme January 2010

5

About August 2009
2 comments

Ulil Abshar-Abdalla

Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat

 

Tindakan sejumlah aparat negara mengunci panti asuhan milik Jemaat Ahmadiyah di Kecamatan Kawalu, Tasikmalaya tidak bisa dibenarkan. Di dalam panti asuhan yang terkunci itu terdapat anak-anak. Upaya sekelompok orang yang beratribut Front Pembela Islam (FPI) untuk membakar panti asuhan yang berpenghuni dan terkunci itu patut dikutuk.

Sebelum kejadian, Komando Kepala Satuan Intelijen menyatakan kepada pengurus panti asuhan “Silakan Anda segel sendiri atau disegel FPI.” Kalau pernyataan ini betul, maka ada kekeliruan mendasar dalam logika aparat itu. Menyelamatkan korban dengan cara menyegel sembari membiarkan para penyerang sama sekali tidak menyelesaikan persoalan. Yang harus dilakukan oleh aparat seperti kejaksaan, kepolisian, maupun intelijen adalah melindungi korban dengan cara menghalau penyerang.

Baik Kejaksaan Negeri Tasikmalaya maupun Kepala Satuan Intelijen dari Kepolisian Resort Tasikmalaya yang terlibat dalam aksi penyegelan dan penguncian itu harus mendapat teguran keras. Tindakan yang mereka lakukan sudah jauh melampaui kewenangan bahkan salah sasaran. Tindakan itu sudah masuk dalam kategori mengkriminalkan korban dan membiarkan proses kekerasan terjadi.

Sudah saatnya menghentikan cara-cara kriminalisasi korban untuk menyelesaikan konflik. Alih-alih menyelesaikan persoalan, cara-cara seperti itu justru memupuk rasa kebencian dari pihak-pihak yang dirugikan. Tindakan seperti itu juga sangat mengusik rasa keadilan.

Adapun FPI yang berteriak-teriak hendak membakar gedung panti asuhan yang dihuni oleh anak-anak adalah tindakan brutal yang tidak bisa dibiarkan. Bagaimana mungkin organisasi dengan logika kekerasan yang begitu kental ini bisa terus hidup dan mengganggu harmoni masyarakat, apalagi dengan memaki atribut agama? Kita mesti berpikir ulang untuk memberi ruang bagi organisasi semacam FPI yang terus-menerus melakukan teror terhadap kelompok-kelompok masyarakat kecil dan marjinal.

Saya meminta semua pihak untuk bersama-sama menutup ruang gerak aksi-aksi kekerasan. Kekerasan tidak boleh mengganggu proses demokratisasi dan pembangunan ekonomi yang sedang membaik ini.

Jakarta, 9 Desember 2010

 

Ulil Abshar-Abdalla

VIVAnews – Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Pluralisme, Liberalisme dan Neoliberalisme yang dikeluarkan tahun 2005 dianggap oleh Ulil Abshar-Abdalla sebagai penyebab mundurnya gerakan keberagaman. Fatwa tersebut menganggap bahwa pluralisme membahayakan akidah atau keimanan seseorang sehingga bisa melemahkan keyakinan agama yang dipeluknya. (more…)

IRAWATY WARDANY,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Fri, 01/22/2010 8:56 AM  |  Headlines

Pluralism and freedom in Indonesia has faced challenges since the Indonesian Ulema Council (MUI) issued an edict against secularism, pluralism and liberalism in 2005, and the deaths of two key pluralism figures. (more…)

Koran Tempo, 22 Januari 2010

Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdalla, meminta media massa tetap pada posisi netral dalam pemberitaan keberagaman (pluralisme).
Dia menilai, selama ini jurnalis masih memihak.”Sering kali ada penggunaan kata yang menjerumuskan,” kata Ulil dalam dialog Prospek Demokrasi dan Kebebasan 2010, di Jakarta Media Center kemarin. (more…)

Jakarta, Kompas – Pascameninggalnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, semangat keberagaman dalam menjalankan agama dan kepercayaan tidak boleh berhenti. Masyarakat, juga kalangan media massa, harus terus mendorong keberagaman dengan mengembangkan ide-ide toleransi untuk kebebasan menjalankan agama dan kepercayaan.

Hal itu dikemukakan tokoh muda Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdalla, Kamis (21/1), pada diskusi ”Prospek Demokrasi dan Kebebasan 2010” menandai peluncuran Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) di Jakarta Media Center. (more…)

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

FILM 2012 yang digarap oleh sutradara Jerman Roland Emmerich itu sekarang menjadi kegemparan di sejumlah kota di Indonesia. Ribuan orang berduyun-duyun ke gedung bioskop untuk menyaksikannya. Pertama kali pergi bersama isteri ke gedung bioskop Cineplex 21 di Setiabudi Building, saya tidak mendapatkan tiket. Semua tiket ludes, bahkan hingga pertunjukan paling akhir selepas tengah malam. Kebetulan saat itu adalah malam Minggu.

Seminggu kemudian, saya datang kembali, tetap bersama isteri, untuk menonton film itu. Kali ini lumayan beruntung, karena akhirnya kami mendapatkan tiket. Tetapi, kami harus sedikit memendam rasa kecewa, karena mendapatkan tempat duduk persis satu baris sebelum deretan kursi yang paling depan, hanya beberapa meter saja dari layar. Selama film itu diputar, saya harus menonton film itu dengan sedikit mendongak. Usai menonton, leher saya terasa pegal-pegal.

Kenapa film ini mendadak menjadi kegemparan? Pertama, karena judulnya sendiri, 2012. Konon, itulah tahun yang diramalkan sebagai akhir dunia atau kiamat. Publik tentu penasaran, seperti apakah dunia kalau kiamat nanti datang. Kedua, ada komentar dari salah satu petinggi MUI, yaitu H. Amidhan, bahwa film ini mengandung propaganda ‘agama’ tertentu. Maksudnya mungkin agama Kristen (saya tidak tahu, dari sudut mana film ini mengandung unsur propaganda Kristen; Roland Emmerich jelas seorang agnostik, dan tidak peduli dengan soal kekristenan).

Bahkan ada rumor bahwa film ini akan dilarang beredar, karena dianggap tidak ‘Islami’. Khawatir film ini tidak lagi beredar di pasaran, publik tak sabar untuk segera menontonnya. Sebuah media bahkan memberitakan bahwa di Bali, sejumlah penonton rela membeli tiket dengan harga dua kali lipat dari seorang calo.

Suatu kejadian yang menarik saya alami ketika saya menonton film ini Sabtu kemaren, 21/11/09, di teater Hollywood Kartika Chandra. Saya menyaksikan ibu-ibu berjilbab yang ikut antri menonton film ini. Saya mempunyai kesan, mereka ini tampaknya bukanlah ibu-ibu yang masuk dalam kategori “movie goers” atau penggemar film, tetapi ibu-ibu majlis ta’lim yang mungkin baru seumur-umur menonton film. Mungkin karena mendapat kabar ‘burung’ bahwa film ini berkenaan tentang hari kiamat, mereka tergerak untuk menonton. Mungkin juga karena film ini dipersoalkan oleh seorang petinggi MUI, sehingga mereka jadi penasaran untuk melihatnya langsung.

Ala kulli hal, komentar “miring” H. Amidhan dari MUI itu justru menjadi “iklan gratis” bagi film tersebut. Mestinya, produser film 2012 harus memberikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Bapak Amidhan karena telah menjadi “juru iklan gratis” bagi film itu.

Apakah benar ini adalah film tentang hari kiamat? Jawaban saya dengan tegas: Tidak. Ini bukanlah film tentang “doomsday,” atau yaum al-qiyamah, dalam istilah Islamnya. Ini adalah film tentang bencana alam, natural disaster, dalam skala yang kolosal. Kalau mau pakai idiomnya Bung Karno, ini adalah tentang embahnya bencana alam.

Selama ini, sutradara Roland Emmerich memang dikenal sebagai spesialis di bidang film-film bencana alam. Salah satu filmnya yang sering saya tonton dan tak bosan-bosan adalah “Independence Day”. Fantasi Emmerich dalam film ini sungguh memukau: tentang serangan makhluk “asing” dari luar angkasa yang hendak menjajah bumi dan menghancurkan peradaban manusia. Digambarkan dalam film itu sebuah piring raksasa yang menggantung di atas sejumlah kota besar di seluruh dunia.

Film Emmerich yang lain dan sangat laris adalah “The Day After Tomorrow”, tentang “pendinginan global” (bukan pemanasan global) di masa yang akan datang dan kembalinya Zaman Es (Ice Age).

Sebagaimana film-film Emmerich yang lain, film 2012 mempunyai ciri khas yang sama: yaitu fantasi yang liar tentang adanya bencana alam yang maha hebat, dan usaha manusia untuk “survive” atau selamat dari bencana itu. Film 2012 berbicara tentang dislokasi atau pergeseran lempeng bumi secara global yang menimbulkan tanah longsor dan gempa bumi di sekujur bumi. Bayangkan, gempa bumi di seluruh bumi! Gempa itu berkekuatan rata-rata di atas 9 dalam skala richter. Karena dislokasi itu, hampir sebagian besar kota-kota besar dunia ambles. Akibatnya, terjadilah tsunami global berupa ombak laut yang tingginya kira-kira 1500 meter. Tak ada satupun permukaan bumi yang selamat dari hempasan tsunami ini, kecuali pucuk tertinggi Gunung Himalaya.

Apakah manusia musnah karena terjangan tsunami raksasa ini? Di sinilah seluruh kisah film 2012 berpusat. Film ini, sebagaimana film-film Emmerich yang lain, berkisah tentang “ikhtiar” manusia untuk selamat dari hempasan tsunami gigantik ini. Manusia tidaklah obyek pasif berhadapan dengan alam yang sedang “mengamuk”. Manusia memiliki kemampuan untuk “mengatasi” musibah alam dengan skala global itu.

Dalam film itu, digambarkan bahwa datangnya bencana geologi global tersebut sebenarnya sudah diprediksi oleh sejumlah ilmuwan. Suatu proyek rahasia dengan skala global yang melibatkan sebagian besar pemerintahan negara-negara besar dunia diam-diam dimulai. Yaitu membangun enam atau tujuh kapal besar yang mampu bertahan menghadapi hempasan tsunami raksasa. Kapal itu dibangun di sebuah tempat yang rahasia sekali di daratan Cina. Tentu saja, keseluruhan proyek ini adalah rahasia kelas wahid. Prediksi tentang bencana global yang mengerikan itu juga sama sekali tak diberitahukan ke publik, sampai detik-detik terakhir, khawatir akan menimbulkan kekacauan global.

Di lain pihak, film ini juga menggambarkan tentang perjuangan hidup-mati seorang penulis dari Los Angeles, Jackson Curtis (diperankan oleh John Cusack), pengarang novel yang sama sekali tak laku (hanya terbit 500 eksemplar) berjudul “Farewel Atlantis” yang juga berbicara tentang semacam bencana hebat. Perjuangan Curtis untuk selamat dari gempa dahsyat dan longsor bumi yang menghempas Los Angeles digambarkan dengan dramatis dalam film ini.

Salah satu daya tarik film ini adalah penggambaran tentang usaha untuk selamat dari situasi maut dalam hitungan detik. Siapapun tahu inilah “bumbu” dalam film-film laga Hollywood yang menjadikannya laris-manis seperti kacang goreng. Salah satu adegan dalam film ini yang membuat penonton menghela nafas adalah saat kapal induk raksasa John F. Kennedy menerjang Gedung Putih bersamaan dengan tsunami raksasa yang menghempas kota itu. Walaupun kita semua tahu ini adalah efek yang diciptakan melalui manipulasi komputer, tetapi adegan itu sendiri tetaplah memukau.

Ujung film itu jelas: Curtis, mantan isterinya beserta kedua anaknya yang berjuang hidup mati untuk mencapai daratan Cina untuk naik kapal induk akhirnya berhasil. Peradaban manusia tidak musnah di tengah banjir global yang melanda seluruh permukaan bumi. Kapal induk itu membawa manusia dan sejumlah binatang untuk melanjutkan kehidupan baru paska-banjir. Misi kapal itu memang jelas: menyelamatkan spesies manusia dan peradabannya dari kepunahan.

Barangsiapa pernah membaca kisah tentang Nabi Nuh, sebetulnya akan segara tahu bahwa kerangka film ini memang diambil dari kisah itu. Mungkin kebetulan, atau mungkin juga disengaja oleh Emmerich atau penulis skenario, bahwa anak laki-laki Jackson Curtis, salah satu tokoh utama dalam film itu, bernama Noah (versi Inggris dari nama Nuh dalam bahasa Arab).

DALAM sebuah wawancara di TV, H. Amidhan dari MUI berkata bahwa film itu tidak sesuai dengan semangat Islam. Alasannya, antara lain, bahwa hari kiamat termasuk barang gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Tuhan. Oleh karena itu visualisasi hari kiamat tidak diperbolehkan.

Saya sebetulnya tidak ingin menganggap serius pernyataan “ngawur” tokoh MUI ini. Tetapi kalau sekedar mau “uji argumen”, maka saya bisa menjawabnya sebagai berikut. Pertama, ini jelas bukanlah film tentang hari kiamat. Ini adalah film tentang bencana alam global yang dahsyat. Bencana ini tidak membuat dunia musnah dan manusia hilang dari pemukaan bumi. Kalau kita merujuk pengertian “hari kiamat” dalam nomenklatur Islam, jelas apa yang disebut kiamat di sana dipahami sebagai momen berakhirnya dunia tempat manusia hidup. Kehidupan dunia, setelah itu, berakhir, digantikan dengan kehidupan lain yang sering disebut “akhirat”, atau “hereafter” dalam istilah Inggris.

Dalam film ini, dunia digambarkan tidak berakhir. Dunia masih terus ada setelah bencana besar itu, dan manusia selamat dari hempasan tsunami global untuk akhirnya menemukan kembali “dunia dan kehidupan baru” di Afrika, tepatnya di Semenanjung Harapan (Cape of Good Hope di Afrika Selatan). Jadi keliru sama sekali manakala H. Amidhan dari MUI menganggap bahwa film ini adalah tentang hari kiamat.

Kedua, apakah betul visualisasi tentang hal yang gaib tidak diperbolehkan dalam Islam? Dari mana hukum itu dipeorleh oleh H. Amidhan? Dalam Quran sendiri kita jumpai banyak visualisasi yang memikat tentang hari kiamat. Salah satu penggambaran hari kiamat yang agak-agak mendekati film Emmerich ini ada dalam Surah al-Takwir (surah no. 81). Ayat ketiga dalam Surah itu berbunyi “wa idza ‘l-jibalu suyyirat”, ketika gunung berjalan. Dalam film Emmerich itu, digambarkan suatu proses dislokasi geologis yang dahsyat sehingga lanskap bumi berubah total. Gunung-gunung pindah lokasi, dan peta dunia seperti disusun kembali.

Sekali lagi, tak ada larangan apapun dalam Islam untuk memvisualisasi semua hal yang gaib, terutama hari kiamat.

Ketiga, film ini, dalam pandangan saya, justru sesuai dengan semangat Islam. Film ini “mengajarkan” (tentu ini istilah yang terlalu “dramatis” untuk sebuah film yang tidak diniatkan sebagai sebuah “ajaran agama”) tentang pentingnya ikhtiar dan optimisme walaupun manusia sedang dilanda bencana dahsyat yang seolah-olah di luar kekuasaan mereka. Manusia bukanlah makhluk yang tunduk saja pada “nasib”, tetapi mampu berikhitiar. Dalam keadaan yang sesulit apapun, manusia tetap harus berusaha dan memiliki harapan. Bukankah ini adalah “nilai” yang justru sesuai dengan semangat “Islam”, Bapak Amidhan?

Sebagai penutup, film ini sebetulnya tidak menarik dari segi cerita. Kalau anda mengharapkan plot cerita yang penuh nuansa dan menarik dari film ini, maka siap-siaplah untuk kecewa. Film ini menarik bukan dari segi plot ceritanya, tetapi dari sudut efek-efek visual yang sangat mengagumkan. Fantasi tentang bencana alam yang tak pernah terpikirkan oleh kita dan efek-efek visual yang dengan cerdik dimanipulasi oleh Emmerich untuk menggambarkannya adalah salah satu daya tarik film ini.

Ala kulli hal, saya terhibur sekali dengan film ini.[]