FILM 2012 yang digarap oleh sutradara Jerman Roland Emmerich itu sekarang menjadi kegemparan di sejumlah kota di Indonesia. Ribuan orang berduyun-duyun ke gedung bioskop untuk menyaksikannya. Pertama kali pergi bersama isteri ke gedung bioskop Cineplex 21 di Setiabudi Building, saya tidak mendapatkan tiket. Semua tiket ludes, bahkan hingga pertunjukan paling akhir selepas tengah malam. Kebetulan saat itu adalah malam Minggu.
Seminggu kemudian, saya datang kembali, tetap bersama isteri, untuk menonton film itu. Kali ini lumayan beruntung, karena akhirnya kami mendapatkan tiket. Tetapi, kami harus sedikit memendam rasa kecewa, karena mendapatkan tempat duduk persis satu baris sebelum deretan kursi yang paling depan, hanya beberapa meter saja dari layar. Selama film itu diputar, saya harus menonton film itu dengan sedikit mendongak. Usai menonton, leher saya terasa pegal-pegal.
Kenapa film ini mendadak menjadi kegemparan? Pertama, karena judulnya sendiri, 2012. Konon, itulah tahun yang diramalkan sebagai akhir dunia atau kiamat. Publik tentu penasaran, seperti apakah dunia kalau kiamat nanti datang. Kedua, ada komentar dari salah satu petinggi MUI, yaitu H. Amidhan, bahwa film ini mengandung propaganda ‘agama’ tertentu. Maksudnya mungkin agama Kristen (saya tidak tahu, dari sudut mana film ini mengandung unsur propaganda Kristen; Roland Emmerich jelas seorang agnostik, dan tidak peduli dengan soal kekristenan).
Bahkan ada rumor bahwa film ini akan dilarang beredar, karena dianggap tidak ‘Islami’. Khawatir film ini tidak lagi beredar di pasaran, publik tak sabar untuk segera menontonnya. Sebuah media bahkan memberitakan bahwa di Bali, sejumlah penonton rela membeli tiket dengan harga dua kali lipat dari seorang calo.
Suatu kejadian yang menarik saya alami ketika saya menonton film ini Sabtu kemaren, 21/11/09, di teater Hollywood Kartika Chandra. Saya menyaksikan ibu-ibu berjilbab yang ikut antri menonton film ini. Saya mempunyai kesan, mereka ini tampaknya bukanlah ibu-ibu yang masuk dalam kategori “movie goers” atau penggemar film, tetapi ibu-ibu majlis ta’lim yang mungkin baru seumur-umur menonton film. Mungkin karena mendapat kabar ‘burung’ bahwa film ini berkenaan tentang hari kiamat, mereka tergerak untuk menonton. Mungkin juga karena film ini dipersoalkan oleh seorang petinggi MUI, sehingga mereka jadi penasaran untuk melihatnya langsung.
Ala kulli hal, komentar “miring” H. Amidhan dari MUI itu justru menjadi “iklan gratis” bagi film tersebut. Mestinya, produser film 2012 harus memberikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Bapak Amidhan karena telah menjadi “juru iklan gratis” bagi film itu.
Apakah benar ini adalah film tentang hari kiamat? Jawaban saya dengan tegas: Tidak. Ini bukanlah film tentang “doomsday,” atau yaum al-qiyamah, dalam istilah Islamnya. Ini adalah film tentang bencana alam, natural disaster, dalam skala yang kolosal. Kalau mau pakai idiomnya Bung Karno, ini adalah tentang embahnya bencana alam.
Selama ini, sutradara Roland Emmerich memang dikenal sebagai spesialis di bidang film-film bencana alam. Salah satu filmnya yang sering saya tonton dan tak bosan-bosan adalah “Independence Day”. Fantasi Emmerich dalam film ini sungguh memukau: tentang serangan makhluk “asing” dari luar angkasa yang hendak menjajah bumi dan menghancurkan peradaban manusia. Digambarkan dalam film itu sebuah piring raksasa yang menggantung di atas sejumlah kota besar di seluruh dunia.
Film Emmerich yang lain dan sangat laris adalah “The Day After Tomorrow”, tentang “pendinginan global” (bukan pemanasan global) di masa yang akan datang dan kembalinya Zaman Es (Ice Age).
Sebagaimana film-film Emmerich yang lain, film 2012 mempunyai ciri khas yang sama: yaitu fantasi yang liar tentang adanya bencana alam yang maha hebat, dan usaha manusia untuk “survive” atau selamat dari bencana itu. Film 2012 berbicara tentang dislokasi atau pergeseran lempeng bumi secara global yang menimbulkan tanah longsor dan gempa bumi di sekujur bumi. Bayangkan, gempa bumi di seluruh bumi! Gempa itu berkekuatan rata-rata di atas 9 dalam skala richter. Karena dislokasi itu, hampir sebagian besar kota-kota besar dunia ambles. Akibatnya, terjadilah tsunami global berupa ombak laut yang tingginya kira-kira 1500 meter. Tak ada satupun permukaan bumi yang selamat dari hempasan tsunami ini, kecuali pucuk tertinggi Gunung Himalaya.
Apakah manusia musnah karena terjangan tsunami raksasa ini? Di sinilah seluruh kisah film 2012 berpusat. Film ini, sebagaimana film-film Emmerich yang lain, berkisah tentang “ikhtiar” manusia untuk selamat dari hempasan tsunami gigantik ini. Manusia tidaklah obyek pasif berhadapan dengan alam yang sedang “mengamuk”. Manusia memiliki kemampuan untuk “mengatasi” musibah alam dengan skala global itu.
Dalam film itu, digambarkan bahwa datangnya bencana geologi global tersebut sebenarnya sudah diprediksi oleh sejumlah ilmuwan. Suatu proyek rahasia dengan skala global yang melibatkan sebagian besar pemerintahan negara-negara besar dunia diam-diam dimulai. Yaitu membangun enam atau tujuh kapal besar yang mampu bertahan menghadapi hempasan tsunami raksasa. Kapal itu dibangun di sebuah tempat yang rahasia sekali di daratan Cina. Tentu saja, keseluruhan proyek ini adalah rahasia kelas wahid. Prediksi tentang bencana global yang mengerikan itu juga sama sekali tak diberitahukan ke publik, sampai detik-detik terakhir, khawatir akan menimbulkan kekacauan global.
Di lain pihak, film ini juga menggambarkan tentang perjuangan hidup-mati seorang penulis dari Los Angeles, Jackson Curtis (diperankan oleh John Cusack), pengarang novel yang sama sekali tak laku (hanya terbit 500 eksemplar) berjudul “Farewel Atlantis” yang juga berbicara tentang semacam bencana hebat. Perjuangan Curtis untuk selamat dari gempa dahsyat dan longsor bumi yang menghempas Los Angeles digambarkan dengan dramatis dalam film ini.
Salah satu daya tarik film ini adalah penggambaran tentang usaha untuk selamat dari situasi maut dalam hitungan detik. Siapapun tahu inilah “bumbu” dalam film-film laga Hollywood yang menjadikannya laris-manis seperti kacang goreng. Salah satu adegan dalam film ini yang membuat penonton menghela nafas adalah saat kapal induk raksasa John F. Kennedy menerjang Gedung Putih bersamaan dengan tsunami raksasa yang menghempas kota itu. Walaupun kita semua tahu ini adalah efek yang diciptakan melalui manipulasi komputer, tetapi adegan itu sendiri tetaplah memukau.
Ujung film itu jelas: Curtis, mantan isterinya beserta kedua anaknya yang berjuang hidup mati untuk mencapai daratan Cina untuk naik kapal induk akhirnya berhasil. Peradaban manusia tidak musnah di tengah banjir global yang melanda seluruh permukaan bumi. Kapal induk itu membawa manusia dan sejumlah binatang untuk melanjutkan kehidupan baru paska-banjir. Misi kapal itu memang jelas: menyelamatkan spesies manusia dan peradabannya dari kepunahan.
Barangsiapa pernah membaca kisah tentang Nabi Nuh, sebetulnya akan segara tahu bahwa kerangka film ini memang diambil dari kisah itu. Mungkin kebetulan, atau mungkin juga disengaja oleh Emmerich atau penulis skenario, bahwa anak laki-laki Jackson Curtis, salah satu tokoh utama dalam film itu, bernama Noah (versi Inggris dari nama Nuh dalam bahasa Arab).
DALAM sebuah wawancara di TV, H. Amidhan dari MUI berkata bahwa film itu tidak sesuai dengan semangat Islam. Alasannya, antara lain, bahwa hari kiamat termasuk barang gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Tuhan. Oleh karena itu visualisasi hari kiamat tidak diperbolehkan.
Saya sebetulnya tidak ingin menganggap serius pernyataan “ngawur” tokoh MUI ini. Tetapi kalau sekedar mau “uji argumen”, maka saya bisa menjawabnya sebagai berikut. Pertama, ini jelas bukanlah film tentang hari kiamat. Ini adalah film tentang bencana alam global yang dahsyat. Bencana ini tidak membuat dunia musnah dan manusia hilang dari pemukaan bumi. Kalau kita merujuk pengertian “hari kiamat” dalam nomenklatur Islam, jelas apa yang disebut kiamat di sana dipahami sebagai momen berakhirnya dunia tempat manusia hidup. Kehidupan dunia, setelah itu, berakhir, digantikan dengan kehidupan lain yang sering disebut “akhirat”, atau “hereafter” dalam istilah Inggris.
Dalam film ini, dunia digambarkan tidak berakhir. Dunia masih terus ada setelah bencana besar itu, dan manusia selamat dari hempasan tsunami global untuk akhirnya menemukan kembali “dunia dan kehidupan baru” di Afrika, tepatnya di Semenanjung Harapan (Cape of Good Hope di Afrika Selatan). Jadi keliru sama sekali manakala H. Amidhan dari MUI menganggap bahwa film ini adalah tentang hari kiamat.
Kedua, apakah betul visualisasi tentang hal yang gaib tidak diperbolehkan dalam Islam? Dari mana hukum itu dipeorleh oleh H. Amidhan? Dalam Quran sendiri kita jumpai banyak visualisasi yang memikat tentang hari kiamat. Salah satu penggambaran hari kiamat yang agak-agak mendekati film Emmerich ini ada dalam Surah al-Takwir (surah no. 81). Ayat ketiga dalam Surah itu berbunyi “wa idza ‘l-jibalu suyyirat”, ketika gunung berjalan. Dalam film Emmerich itu, digambarkan suatu proses dislokasi geologis yang dahsyat sehingga lanskap bumi berubah total. Gunung-gunung pindah lokasi, dan peta dunia seperti disusun kembali.
Sekali lagi, tak ada larangan apapun dalam Islam untuk memvisualisasi semua hal yang gaib, terutama hari kiamat.
Ketiga, film ini, dalam pandangan saya, justru sesuai dengan semangat Islam. Film ini “mengajarkan” (tentu ini istilah yang terlalu “dramatis” untuk sebuah film yang tidak diniatkan sebagai sebuah “ajaran agama”) tentang pentingnya ikhtiar dan optimisme walaupun manusia sedang dilanda bencana dahsyat yang seolah-olah di luar kekuasaan mereka. Manusia bukanlah makhluk yang tunduk saja pada “nasib”, tetapi mampu berikhitiar. Dalam keadaan yang sesulit apapun, manusia tetap harus berusaha dan memiliki harapan. Bukankah ini adalah “nilai” yang justru sesuai dengan semangat “Islam”, Bapak Amidhan?
Sebagai penutup, film ini sebetulnya tidak menarik dari segi cerita. Kalau anda mengharapkan plot cerita yang penuh nuansa dan menarik dari film ini, maka siap-siaplah untuk kecewa. Film ini menarik bukan dari segi plot ceritanya, tetapi dari sudut efek-efek visual yang sangat mengagumkan. Fantasi tentang bencana alam yang tak pernah terpikirkan oleh kita dan efek-efek visual yang dengan cerdik dimanipulasi oleh Emmerich untuk menggambarkannya adalah salah satu daya tarik film ini.
Ala kulli hal, saya terhibur sekali dengan film ini.[]

November 23, 2009 at 9:47 am
Betul Kang Ulil,terlalu dini dan teramat gegabah,kesan yang saya tangkap ketika mendengar “lontaran” fatwa Haram MUI.
November 23, 2009 at 10:55 am
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda : ” Sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.”
Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W : ” Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?”. Maka berkata Rasulullah S.A.W : ” Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir’aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura !”.
Assyura tahun 2012 mungkin saja. gambaran melalui film 2012 ada segi positif dan negatifnya, akan direspon positif jika dipandang oleh orang-orang liberalisme, sebaliknya akan dipandang negatif oleh orang-orang fundamentalis,,karena melihat efek dari film 2012 tsb. jangankan film 2012, video-video pornografi j kan ga boleh karena melihat efeknya yang cenderung negatif pada masyarakat.
November 23, 2009 at 11:39 am
@ Penulis
Saya kira visual effek yang dibuat oleh Emmerich buat saya terasa kurang greget
pasalnya dalam fim ini ia terlalu mengandalkan popularitas para pemainya yg notabene pemain kaliber oscar semisal Thandie Newton, Amanda Peet, Danny Glover, Cussack hingga Woody Harrelson.
Alur cerita yang dibuat terlalu terbaca karena “hanya” merupakan usaha sekelompok orang yang ingin berusaha tetap hidup, layaknya kebanyakan film Survival pada umumnya.
Ada baiknya kita melihat bagai mana Michael Bay ataupun Spielberg dimana mereka mengedepankan visual effek dan penokohan karakter ketibang menghamburkan uang membayar artis papan atas yg justru, menurut saya terlalu berkarakter dan akrab di masyarakat sehingga rasanya kurang mengena gitu ..
coba lihat film Jurrasic Park, atau Transformers. Sam Neil, Jeff Goldblum hingga Shia Lebouf bukan siapa2 waktu itu, jadi penonton mengenal mereka sebagai Dr Grant ataupun Spike Withcwicky jadi rasanya peranan mereka di film meresap kedalam karakter yg dimainkan.
Buat saya film 2012 boleh mendapat nilai 8.0/10.0 max atau setidaknya 7.5/10.00 buat visual effect.
bagus memang, tapi tidak sebagus Transformers atau Jurrasic Park II
Intinya di film 2012 manusia dituntut untuk selalu berbuat cerdas, menggunakan hati nurani dan peduli terhadap iklim.
ayo cintai lingkungan!
November 23, 2009 at 12:11 pm
keren Mas Ulil… ngefans sampe mati dah!!!!
November 23, 2009 at 1:46 pm
paling tdk,dgn catatan ini,rumor ada unsur ‘kristenisasi’ dlm film ini,buyar.Roland Emmerich seorg agnostik.
November 23, 2009 at 2:45 pm
Film itukan seni dan refleksi imajinasi manusia dalam format visuali gambar dan suara. Persoalan yang seperti ini seharusnya MUI agak cerdasan. Sikap reaksioner MUI menunjukan ke bahlulan dan ketololan yang murakab.Mentalitas lembaga yang sok superbody ini nantinya berefek pada kerdilnya kreatifitas umat dan matinya ilmu pengetahuan. Sekarang aja umat Islam sudah sekarat dalam menegejar science dan teknology, apalagi ditakut-takuti dengan berbagai fatwa yang tidak mendidik.
Lembaga2 semacam mihnah kayak begini lebih baik tidak perlu ada, karena sangat berbahaya bagi kehidupan beragama dan perbedaan di tengah umat. Korbanya sudah banyak sekali, akibat ulah pikiran picik orang-orang MUI: orang2 Islam diadu domba dengan pengelompokan sesat dan tidak sesat, benar dan tidak benar?
MUI bubar umat senang: cukup Indonesia…diwakili NU dan Muhammadiyah dan kelompok2 keagamaan lainya yang idependent.
November 23, 2009 at 5:39 pm
Cuma hiburan. Memang kita tidak bisa memastikan hari akhir, atau hari yang menjuris ke kiamat itu tiba. Tapi misalnya ada yang takut dan tersadarkan tentang sisa hidup sehingga akan melakukan lebih banyak kesalehan sosial, malah baik to? Pencerahan spiritual kan juga bisa datang dari hal-hal yang profan dan sekular
November 23, 2009 at 11:41 pm
saia setuju …. bukan saatnya MUI berbicara dalam film ini. MUI cukup Urusi Urusannya yang menjadi tanggung jawabnya. masih banyak film indonesia yang harus di CUT, tidak layak tayang, cabul… saya pikir nonton film ini tidak ada negatifnya. thanks
November 24, 2009 at 12:22 am
Saya pribadi Sependapat dengan Anda. Malahan kalo pandangan saya, seumpama film tersebut berkisah tentang kiamat, barangkali ending yang patut ditayangkan adalah hitam gelap. tanda semua kehidupan itu telah tiada. Hehehe…
November 24, 2009 at 3:58 am
saya sangat setuju dengan pendapat ini! Kadang saya bingung kenapa banyak sekali orang-orang yang heboh dengan film ini. Bagi saya, ini adalah film yang hebat, up to date karena sesuai dengan gossip gossip yang beredar tentang kalender suku Maya. Walaupun saya sedikit kecewa dengan beberapa akting para pemainnya yang seolah “sudah tahu” dengan adanya bencana ini. Obsesi Emmerich tentang gelombang besar / tsunami memang patut diacungi jempol. Denger-denger nih, akan ada film yang berjudul sama, dan akan disutradarai oleh orang yang menyutradarai “armageddon” Semoga pihak MUI meloloskan film ini ke Indonesia, karena kalau tidak, orang akan banyak membeli film bajakan yang jelas jelas dilarang! salam, – widya -
November 24, 2009 at 7:10 am
kenapa mas Ulil menulis mengenai 2012?
karena ada tanggapan dari MUI….
kayanya selama ini mas Ulil jadi pengamat MUI. hehehe. just kidding
November 24, 2009 at 9:11 am
masyarakat memang gampang tergoda..
MUI sudah bbrp kali mengeluarkan fatma yang nggak jelas, dan makin membuat binggung umat islam…
November 24, 2009 at 9:23 am
Saya setuju dengan pendapat penulis diatas, disini tidak ada unsur kristenisasi, MUI selalu mengharamkan dan haram mulu cari perhatian…dasar gaptek…kalau anda mau film yang paling bagus cari aja di youtube.com Film knowing…
November 24, 2009 at 11:45 am
hebat cara gus Ulil mengilustrasikan wacana 2012 sebagai antitesa dari MUI,..apalagi sebelumnya membaca tulisan kang Lutfi di website JIL..tulisan gus Ulil cocok sebagai syarah atau natijah…(pendukung ULIL FOR KETUA PBNU)
November 24, 2009 at 12:50 pm
Lepas dari komentar MUI yang reaksioner itu, menurut saya film ini rasis dan fasis..
yang pastinya tidak akan tidak rasis dan fasis..
kita yang hidup di negara dunia ketiga sama sekali tidak dianggap..
tidak muncul sama sekali dalam film, dan pastinya mati pula..
Saya menunggu bang Ulil membuat versi film ini..
January 8, 2010 at 12:55 am
Kalo semua negara mau ditampilkan, bisa berapa jam panjang-nya tuh film? mending nonton film India aja deh, biar lama tapi gak tegang, bisa sambil nyanyi dan joget lagi..
November 24, 2009 at 12:54 pm
Kalau anda cukup cerdas, ngapain cape2 nonton ??? he he he kasian deh jadi korban iklan malah nuduh2 org lain tukang iklan … ha ha ha
November 24, 2009 at 3:27 pm
penjelasan yang menarik. terima kasih untuk penulisnya. menambah wawasan sy. btw, sebaiknya MUI lebih cermat ketika mengeluarkan fatwa, kali ini cenderung mubazir. bukankah yg mubazir itu justru ‘haram’ hukumnya?…
November 24, 2009 at 3:38 pm
film ini jelas mengandung unsur “kristen”, at least kristenlah yang survive :
1. daratan asia pada film ini digambarkan lenyap (asia terutama asia barat adalah basis utama islam)tetapi tidak dengan seluruh eropa. seolah2 hanya bangsa barat yang superior disini. tidak ada dasar secara ilmiah, saya seorang enthusist geologi.
2. banyak scene seolah2 orang islam sangat terbelakang, demikian yang saya tangkap.
tapi saya setuju ini bukan kiamat lebih ke propoganda superioritas barat, jadi bang ulil,, saya harap sesekali membela umat islam jangan selalu kontra seakan2 para ulama tidak ada benarnya, ingat kita sama2 muslim jadi saling menguatkan iman jangan sellalu menyerang orang, kan katanya JIL cinta damai,,kok nyerang orang..
JIL, FUnDAMETALIST, WAHABI, NU, MUHAMMADIYAH KITA SAMA BUNG, KITA ISLAM… RUKUN ISLAM 5 RUKUN IMAN 6,,,SELAIN ITU TERSERAH! KITA SEMUA SAUDARA.
January 31, 2010 at 5:01 pm
Anda kalau tidak tahu lebih baik diam dan tidak usah komentar. Apa anda tidak tahu (atau tidak mau tahu) kalau sutradara film ini agnostik? Bukan orang Kristen, HIndu, Buhist,a tau lainnya. Catat itu. Berikutnya, ini film pure for entertainment, gak ada urusan dengan unsur agama. Dari komentar anda kelihatan kalau anda adalah orang bodoh yang selalu berpikir sempit. Segala sesuatu selalu dikaitkan dengan Islam sebagai korban dan Kristen serta Yahudi sebagai musuh. Pola pikiran anda harus dibenahi tuh.
April 15, 2010 at 3:42 am
Saya setuju dan akan meneruskan Ilustrasi Mas Ulil tentang Film 2012 kepada semua orang. Tidak ada unsur ke-Kristen-an dalam film 2012. Kita sesama makhluk Tuhan Termulia, seharusnya gandeng tangan Damai, gandeng tangan Kasih, hidup aman, menjadikan bencana besar seperti yang tergambar dalam film 2012 sebagai bahan refleksi untuk Pertobatan, dan memperbaiki pola hidup dan pola berfikir, dan berusaha membenahi diri utnuk berjalan di atas kebenaran dan keadilan dan berkarya sesuai kehendak Tuhan, Thanks Mas Ulil. Greetings for You.
November 25, 2009 at 4:45 am
kalau saya lebih kepada pesan geopolitiknya mas…ada pertarungan yang dahsyat dari corong peradaban dunia ? ini semacam otokritik terhadap Amerika…gt mas…mohon bimbingan nya…makasih.
November 26, 2009 at 12:19 am
“2012″ jelas bukan film tentang “kiamat”. Malah, menurut saya yang lebih mendekati visualisasi kiamat adalah film “Knowing” yang dibitangi William Cage. Kenapa tidak ada komentar tentang film ini, dari MUI khususnya?
January 8, 2010 at 12:47 am
karena kurang heboh? menanggapi yang kurang heboh tidak terlalu menjual kan, popularitas bisa turun.. rugi..
November 26, 2009 at 3:18 am
jika saya Gus Ulil, saya akan:
1. bertanya langsung kepada ibu2 yg diduga anggota majlis ta’lim itu perihal motif mereka menonton film ini. saya yakin akan muncul ‘sound bit’ yg tak terduga.
2. menerangkan apa jadinya bila Roland Emmerich tak cuma menampilkan gambar orang-orang bersujud di sekeliling ka’bah, tp jg memvisualisasikan adegan ketika ka’bah luluh-lantak.
3. membandingkan respon masyarakat muslim di belahan dunia lainnya ketika menonton film ini. siapa tahu ada mullah di Iran yg sampai bilang: Roland Emmerich halal darahnya, sehalal darah Salman Rushdie.
4. mengajak MUI,atau pihak lain yg alergi terhadap film ini, untuk nonton bareng. siapa tahu sejauh ini mereka menilai film ini hanya berdasarkan sinopsis, resensi, atau komentar2 yg bersliweran di media.
mudah2an Gus Ulil nanti membikin ‘sekuel’ atas catatan film ini.
November 26, 2009 at 4:34 am
terlalu mudah pemuka Agama kita (MUI) di indonesia menyebut halal dan haram…terlalu mudah dan tidak dipikirkan apa yang benar benar haram dan apa yang benar2 halal…
November 26, 2009 at 1:07 pm
2012 ok sbg film..bkn kisah nyata..
So,lanjutkan..hehehe..
December 1, 2009 at 6:57 am
kiamat itu adalah matinya mahluk hidup bernama bumi. yaitu dengan berhentinya detak jantung bumi atau yang disebut gravitasi bumi . bumi memang sudah tua dan manusia sebagai Ruhnya (penanggung jawab bumi ini) . kita sekarang hidup dizaman bumi lansia . Zaman Kepikunan (tafsir2 ngawur), Zaman kembali kekanak kanakan ( senang hiburan , penampilan, makan makan, jalan jalan, dan permainan permainan).dan zaman pesakitan .
bumi memang udah tua udah sakit sakitan . dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa jiwa yang sehat . bumi yang sehat terdapat manusia manusia yang baik .
jika dilihat dari adanya perusakan lingkungan , perang , ekonomoi dan hukum yang tidak humanis . maka jelas bumi adalah mengalami pesakitan dimasa tuanya , ketika bumi berobat dan reaksi dari obat kita sebut bencana alam . maka kemungkinan bencana tidak akan pernah berhenti. karena sumber penyakit dari bumi ini(manusia jahat) menganggab bahwa bencana alam hanyalah proses penomena alam belaka.
oleh sebab itu menurut saya jika bencana tidak mampu merubah moral manusia . mendingan dimusnahkan saja sebagian besar manusia tersebut. atau kalau perlu KIAMAT dipercepat saja. jika anda melihat seorang manusia tua/kakek kakek pesakitan, pikun, dll mungkin kita akan bilang mendingan itu orang mati aja biar tidak terlalu lama menderita. maka bagi saya bumi ini sama nasibnya dengan si kakek kaket.(ALLAHUAKBAR)
December 1, 2009 at 4:02 pm
kok kayaknya film itu ceritanya nyontek kisah nabi Nuh AS ya bang..bener g..
December 3, 2009 at 2:55 pm
nice blog ! tukeran link yuk …
December 4, 2009 at 5:19 pm
karya film kan muncul dari pikiran manusia, ya saya pikir itu sah-sah saja!,dan kenapa pikiran meski dibatas-batasin?, jangan dong!, sekali2 MUI bikin film,amidan tu jadiin bintangnya!!!
December 6, 2009 at 1:25 am
Ulil, resensi dan ulasan yang sangat menarik. Saya belum sempat menonton film itu, tapi kayaknya boleh juga meluangkan waktu.
Maju terus, Gus.
December 9, 2009 at 12:49 am
Salam, saya kira benar menurut MUI, bahwa film 2012 propoganda, propoganda kapitalisme. film 2012 murni kepentingan ekonomi, jadi harus dipropoganda dengan 2012, namun sayang sekaliber ulil tidak menganalisis sejauh itu. Mungkin, mas ulil salah satu agen kapitalisme global.
January 31, 2010 at 5:04 pm
Bosan saya. Segala sesuatu kog dikaitkan dengan Yahudi, Israel, Amerika, kapitalis, neo-liberal, haram-halal, dll.
April 3, 2010 at 3:26 pm
allah yahdiiiiiiiiiiik………
December 9, 2009 at 8:03 am
Saya sependapat dengan anda. Film ini dari segi alur cerita biasa saja. Efek visualnya yang menurut saya patut dicontoh oleh dunia film Indonesia. Hanya saja film ini jadi terkenal karena dapat promosi gratis dari orang yang asal berbicara tanpa nonton film ini.
Begitulah kadang2 orang yang merasa hebat tetapi kurang mengupdate ilmu dengan membaca bahan/literatur yang lain sehingga terkadang sangat sempit pola berfikirnya.
Menyangkut H. Amidhan, saya sangat yakin, saat dia mengeluarkan pendapatnya dia belum menonton film ini.
Saya sih menyarankan supaya MUI harusnya mulai melakukan regenerasi sehingga pendapat dan fatwa yang dikeluarkan jangan asal keluar saja.
December 23, 2009 at 6:19 am
lumayan neh buat kasi semangat ama yang ketir-ketir denger 2012,,,
sekalian izin copy paste yah om…..
January 8, 2010 at 12:43 am
Kiamat? Bisa besok, bisa lusa, bisa nunggu matahari-nya meledak dulu, bisa 5 menit lagi.. yang penting, siap nggak kita kalau kiamat datang?
Salut ama yang punya ide cerita dan yang bikin film, bisa bikin polemik hebat karena banyak yang merasa terancam dan tersinggung hehehe..
more comments, more reaction, more money.. kita semua sudah jadi kaki tangan kapitalis.. selamat ya..
Sayah mah, siap-siap aja buat ujian akhir di akhirat nanti, takut gak bisa jawab.. kalo gak lulus.. gawat bouw…
January 18, 2010 at 5:32 am
uLIL-ULIL NAMANYA DOANG Ulil Abshar-Abdalla, OTAKNYA MAH”ANTEK-ANTEK YAHUDI, GA’CAYA DAH AMA si Ulil: tukang melintir,
ada orang pintar kepinterannya untuk kebaikan, ada orang pintar tapi bikin orang jdi begog, itu si Ulil………….heh—heh Ulil——-ulil
March 30, 2010 at 4:55 am
bung dave, ente orgnya picik amat ya…kayaknya ente bersosialisasi juga ga punya banyak temen ya..? wajar melihat komentar anda spt ini..! film kan visualisasi dari imajinasi dan improvisasi dari pembuat film atuh…koq ditanggapin aneh2 sih…?kiamat lah, propaganda lah, kristen lah, islam lah, picik sekali???? dari 50 thn yg lalu jg film spt ini udah ada cuma teknologi nya aja blom support…ini cuma fenomena alam dibuat filmya titik…!!!!
January 30, 2010 at 8:42 am
Jangan sampai deh mas ulil ini jadi Ketua NU
January 31, 2010 at 5:05 pm
Salut untuk bang Ulil yang mampu berpikir logis, kritis, dan terbuka. Orang-orang seperti andalah yang selalu diperlukan untuk membangun negara ini.
February 2, 2010 at 5:06 pm
wow…………..WOW
February 3, 2010 at 2:08 am
2012 cuma film, dimana film itu hanya sebagai alat untuk hiburan dibuatnyapun dengan segala penuh rekayasa, kenapa kita harus memperdebatkannya?, apalagi sampai harus saling menyerang, tidak baik bukan? sebaiknya sebelum film ini ditayakan terlebih dahulu lembaga sensor film kita menyampaikan bahwa cerita ini hanya fiktif belaka, hal ini untuk membuang segala pengaruh/efek/bentuk imeg yang negatif di mata masyarakat kita. Jadi jangan sesekali dunia acting dijadikan acuan di dalam kehidupan nyata apalagi di kaitkan dengan kehidupan spiritual.Sekali lagi klo menurut hemat saya hiburan..ya hiburan, film..ya film bukanlah sesuatu yang nyata, kehidupan beragama..ya kehidupan beragama..itukan rahasia illahi yang sama-sama kita yakini, jangan suka dicampur baur kasihan sama umat..jadi nambah tidak tentram dan pusing.
March 10, 2010 at 3:09 am
betul, saya juga setuju,.. tidak ada satu manusiapun yang tahu kapan hari kiamat itu akan terjadi.
dalam Al-Qur`an, surat Thaha:15; , “…aku merahasiakan kejadiannya, agar tiap-tiap umat di balas sesuai yang diusahakannya.”
dari itu sudah jelas, bahwa malaikatpun yaitu makhluh Allah yang paling dekat dengan_Nya tidak mengetahui kapan kiamat itu, begitu rahasiannya hari itu, dan kita hanya wajib meyakini bahwa hari kiamat itu pasti akan terjadi, karena itu adalah janji Allah.
Memang tidak mungkin juga bisa di sinyalir ada kristenisasi, walaupun memang saya juga agak sedikit berpikir ke arah situ…. (^_’)~~!#
March 24, 2010 at 7:46 am
Saya seorang muslim dan juga pengagum teknologi tinggi (bekerja di IT department), tapi film yang ada dipasaran pada masa sekarang ini (termasuk 2012) adalah film yang hanya menonjolkan sisi hiburan belaka dan isinya jelas jauh bertentangan dengan akhlak dan akidah umat islam. Menoton film seperti ini adalah jelas sebuah kesia-siaan..
yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.(Al-A’raf 51)
Dan firman Allah tentang ini
April 15, 2010 at 3:51 am
Mas Ulil, orang MUI bilang gitu, besok saya nulis buku tentang kiamat versi saya….Pada Hari kiamat, yang musnah adalah hanya orang Kristen, orang Muslim selamat dari kiamat, gimana MUI menanggapi ???
June 21, 2010 at 2:10 am
gus pol ulil, politisi demokrat.
July 7, 2010 at 11:28 am
ulil belum pernah di potong kepalanya ya??
sini saya potong!!
July 25, 2010 at 4:15 pm
setuju mas ulil…film 2012 gak perlu diartikan sebagai film kiamat….terllu naif….justru film itu membangkitkan kita untk berbuat baik buat semua dan berusaha untuk selamat dari setiap persoalan bagaimanapun besarnya persoalan itu.dan lucu saja kalo setiap orang mengartikannnya sebagai hari kiamat.bukankah sudah tertulis didalam alquran kalo dihari kiamat akan terdengar sangsangkala yang ditiupkan oleh sang malaikat.percayalah selama masih ada yang berzikir menyebut asma allah ,maka allah tidak akan menyengsarakan hambanya …bravo
January 2, 2011 at 9:11 am
[...] Catatan tentang Film ’2012′ November 200950 comments and 1 Like on WordPress.com, 3 [...]